Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penjelasan [Tauhid] dan Pengertian dalam Islam

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengertian Tauhid

Baik, kita mulai dengan "Apa itu tauhid"?

Tauhid dalam konsep aqidah islam yaitu menyatakan keesaan Allah dan tidak menyekutukan Nya.

Tauhid adalah unsur utama kebahagiaan seorang hamba di dunia maupun di akhirat, modal terbesar bagi seorang hamba untuk meraih keridhoan dan kecintaan Allah di dunia maupun di akhirat.

Tauhid sendiri secara bahasa, berasal dari kata Wahhada-Yuwahhidu (وحد- يوحد), menjadikan sesuatu itu satu atau tunggal.

Secara istilah, tauhid adalah meng-Esakan Allah subhanahu wata'ala pada kekhususan-kekhususan yang dimiliki Nya.

Pokok ilmu tauhid yang paling penting dibagi menjadi 3 bagian;

1. Pondasi(Rukun)Iman, untuk menguatkan keyakinan,

    Pokok Bahasannya;

  • Memahami konsep bangunan (kekuatan) iman
  • Makna Iman dan kolerasinya dengan konsep kehidupan
  • Konsep Rukun iman dalam islam

    Dalil Argumentasi;

  • QS.2 ayat 3, QS.1 ayat 11, QS. 103 ayat 1-3


Hadits al-Arba'in dari abdullah bin umar (Anak dari Umar Bin Khattab)

2. Penyakit Iman (Penyakit Tauhid)

3. Tentang mengenal diri kita sendiri.

 Pokok bahasan tentang iman kepada Allah;

1. Aspek Ketuhanan (Uluhiyyah)

Aspek ketuhanan Uluhiyyah ini bahasa yang ditampilkan al-qur'an untuk memantaskan argumentasi yang mempersoalkan tentang Allah.

QS.Muhammad ayat 19 disampaikan, diketahui berlandaskan pengetahuan untuk menetapkan tiada tuhan selain Allah, jadi bedanya muslim dengan mu'min atau muslim dengan non-muslim yaitu ketika menetapkan tuhan hanya dengan menyatakan Allah adalah tuhannya, itu tidak cukup. Akan bersinggungan dengan sifat keyakinan pada diri atas pernyataan bahwa tuhan yang ia yakini itu tidak sepenuhnya ada dalam hatinya. Meski dengan ilmu untuk mengenal tuhannya (Allah).

bukan hanya dengan Logika, karena tidak cukup kita membuat pernyataan tanpa adanya data yang valid, harus disandingkan dengan  dalil.

Tujuan dalam aspek Ketuhanan ini

Menetapkan Allah sebagai Tuhan yang haq, menolak sosok lain sebagai makhluk yang dipertuhankan.


  • Metode Pembahasan


     1. Argumentasi Dalil, Sumber Pokok Al-Qur'an;


  • Qs. 47 ayat 19
  • Qs. 112 ayat 1-akhir
  • Qs. 17 ayat 111
  • Qs. 4 ayat 171
  • Qs. 2 ayat 115


     2. Argumentasi Logika

     3. Pembuktian Praktikal

 Argumentasi Logika dan Praktikal, Pokok Bahasannya;


  • Beriman dengan ilmu, tidak sekedar klaim diri semata
  • Membuktikan konsep ketuhanan lewat nama, menyatakan dalam Qs. 112 ayat 1-akhir
  • Membuktikan konsep ketuhanan dari sifat ke Esaan,
  • Kerancuan Politheisme (Trinitas dan semacamnya), contoh Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Ruh kudus yang dipertuhankan oleh makhluk Allah sendiri

Lalu kenapa yang menjadi tuhan kalian adalah Tuhan anak? apakah hanya karena Tuhan anak (Nabi Isa) bisa menghidupkan yang mati atas izin Allah dan nabi lain tidak bisa? Nabi sebelumnya juga ada yang lebih ekstrim yaitu Nabi Ibrahim As, kalau Nabi Isa cara menghidupkan yang mati dengan cara menepuk badannya lalu dihidupkan kembali yang telah mati tersebut atas izin Allah, lain halnya dengan Nabi Ibrahim, burung yang dicincang-cincang terlebih dahulu lalu disimpan di bukit yang berbeda, kemudian panggil burung itu dengan nama Allah, maka menyatulah kembali bagian yang telah dicincang itu atas izin Allah dan kembali kepada Nabi Ibrahim As.

Lalu kemudian perbedaan lain yang tidak dapat dipungkiri ialah mengenai Nabi Isa(Tuhan Anak yang dijadikan Tuhan dalam agama lain) memiliki ibu tapi tidak memiliki bapak, bedanya apa dengan Nabi Adam As yang bahkan tidak memiliki bapak serta ibu, lalu kenapa Nabi isa dijadikan Tuhan sedangkan Nabi Adam tidak?

Berikut akan diterangkan mengenai sifat-sifat Allah yang nyata (Tuhan yang sesungguhnya);

 1. Pencipta mesti ada yang mencipta

 2. Pencipta selalu merawat ciptaanNya, bukan ciptaanNya yang merawat Pencipta

 3. Pencipta sudah pasti unggul dari ciptaanNya.

2. Aspek Rububiyyah

Rububiyyah dalam kaidah bahasa Arab disebut dengan Rabb. Yang memperhatikan, merawat, memberikan sesuatu dalam konsepnya yang lebih cepat dibanding dengan makhlukNya. Apapun keinginannya akan mudah diterimaNya dengan diberikannya sebuah ujian yang membutuhkan usaha dari seorang makhlukNya. Makhluk yang meminta kepada Allah sedangkan ia selalu jauh dari Nya itulah yang akan diuji terlebih dahulu oleh Allah, karena setelah ia dekat dengan Allah yang pertama kali Allah kasih adalah bukan dunia, melainkan Akhiratnya. Dengan dihapusnya dosa-dosa makhluk tersebut dan diberikannya ketenangan dalam dirinya. Dosa adalah inti dari rezeki berupa materi di dunia, jikalau sudah dihapuskannya  dosa kalian oleh Nya, maka rezeki bentuknya materi yang nampak akan mudah didapat dengan bergerak sedikit saja akan datang menghampirinya. Dan rezeki berupa materi yang tidak nampak pun akan kalian dapatkan jika usaha kalian lebih mengutamakan Akhirat dibanding dengan duniaNya. Logika yang tidak kuasa kita dapat selain dengan data yang valid bersumber dari Al-Qur'an serta Hadits ialah "Mengejar Akhirat adalah hal yang utama dibanding dunia, karena mengejar dunia ibarat mengejar bola yang tak dapat diraih, namun akan mengejar balik kita dengan  mengejar akhiratNya, tak perlu mengejar dunia melainkan selalu bergerak saja, melakukan hal yang tidak mengesampingkan akhirat (selalu mengutamakan akhirat) maka hanya mendatangkan dunia yang fana ini milikNya tidak lebih dari setengah sayap nyamuk saja bagi Allah"

Dalam kaidah bahasa Arab, Tarbiyah untuk makhlukNya, makhluk yang dapat memperhatikan dalam perkembangan muridnya, diajakarnnya dengan baik itu akan disebut dengan Murobbi.

Perbedaannya antara kata Murobbi dan Rabb ialah pengawas yang memperhatikan dan mengajarkan muridnya, melihat sudah sampai mana muridnya berkembang, tidak bisa menjangkau segala hal tentang muridnya sedetail mungkin, ini adalah Murobbi. Sedangkan Rabb yaitu Allah SWT memperhatikan, melihat perkembangannya bahkan sampai apapun yang dipinta oleh makhlukNya akan diberikan, dan itu sebaik-baiknya perhatian, penelitian maupun penglihatan serta merawat makhluknya dengan amat tajam bahkan sampai inti dari segi penglihatanNya maupun yang lainnya. Murobbi ini tidak lain hanya makhluk Allah yang senantiasa memperhatikan, mengajarkan, melihat perkembangan muridnya saja.

Dalam konteks diatas menunjukkan bahwa tidak ada yang menjamin kepada makhluk selain Allah, kepada mereka yang melata sekalipun. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menciptakan para makhlukNya, maupun dapat memelihara makhlukNya dengan baik. Diantara kesempurnaan Allah dalam memberikan rezeki, seluruh makhluk telah diatur sebelum ia ada. Dalam isyarat disebutkan "Tidak akan meninggal seorang makhluk hingga tuntasnya seluruh rezeki makhluk tersebut".

Dialah (Allah) yang telah menciptakan bumi maupun langit, dan Dialah yang telah menghidupkan maupun mematikan makhlukNya.

3. Tauhid asma' wa shifat

Ditetapkannya nama dan sifat sesuai dengan hakikatnya tanpa dipalingkan makna yang ada kepada yang lain, tanpa diberikan permisalan, tanpa di ingkari, tanpa kita tanyakan caranya.

Mengenal Allah dengan cara mengenali asma' wa shifat terlebih dahulu, memahami atau mengetahui asma' wa shifat itu tujuannya untuk menjadikan diri kita agar lebih dekat kepada Allah SWT.

Perangkat ataupun alat yang digunakan syariat Islam untuk mengenalkan Allah SWT kepada seluruh manusia (makhlukNya), dengan cara mengenalkan nama-nama yang mulia dan sifatnya yang indah.

Yang terangkum dalam nama-nama dan sifat Asmaul husna, berbicara tentang nama dan sifat, perbedaannya kalau nama itu isyarat yang menunjuk kepada keagungan zat, kalau sifat itu nama yang menunjuk kepada karakternya.

Cukupkah masuk surga itu hanya dengan bekal iman? Meski harus disampingkan dan dibuktikan dengan amal sholeh. Karena itu dalam Al-Qur'an sering kali disandingkan dengan amal sholeh, seperti dalam QS.Al-Ashr ayat 1-3. kemudian dibuatlah rincian dalam Al-Qur'an bisa bentuknya ibadah ritual seperti sholat (QS-Al-Baqoroh ayat 3), artinya orang orang yang sudah beriman dituntut pembuktiannya dengan amal sholeh itu bekal dia untuk ke surga nanti.

Adalagi sifatnya yang terkait dengan sosial berhubungan dengan makhluk, seperti menepati janji (QS.Al-Maidah ayat 1), hai orang orang yang beriman, tepati janji bila punya perjanjian. Karena sebelum datangnya rezeki berupa kematian Allah pun menepati janjinya mengenai rezeki yang tiada satupun tersisa lalu dia(makhlukNya) meninggal, karena Allah akan memberikan semua rezekiNya sebelum makhlukNya didatangkan kematian terlebih dahulu.

Saya sandingkan diakhir pembahasan mengenai Tauhid ini dengan kisah seorang Nabi yang dapat kalian simak dan simpulkan lalu ditiru dengan seksama.

Qs.21 ayat 83-84 di isyaratkan dalam Al-Qur'an "Tidak akan diminta oleh orang sebelumnya dan tidak akan dialami oleh orang setelahnya", ini tentang kisah Nabi Ayyub, Nabi yang tampan, sudah berumah tangga, orang yang kaya, punya 12 anak.

Allah menguji beliau yaitu dalam satu hari hancur semua pertaniannya, kemudian hewannya mati semua, singkat cerita ia jatuh miskin. Yang luar biasanya setelah diuji demikian, Nabi Ayyub semakin giat dalam ibadahnya naik 2x lipat, pada hari ke 2, Allah masih menguji dengan diwafatkannya anak Nabi ayyub yang 12 itu, Nabi Ayyub semakin bertambah giat ibadahnya, Allah menguji untuk yang ke 3xnya dengan diberikannya sakit pada Nabi Ayyub yang mana penyakit ini tidak disebutkan (banyak para ulama berbeda pendapat yang tidak tepat mengenai penyakit Nabi Ayyub ini), dalam konteks "Tidak dialami orang sebelumnya dan setelahnya" berarti saking parahnya penyakit ini Allah berikan kepada Nabi Ayyub dan berlangsung selama 20 Tahun, istrinya pun mengatakan (dalam segi bahasa kita) "Pah.. papah itu kan Nabi, cukup mengangkat tangan dan memohon kepada Allah, maka Allah pasti akan mengabulkan", Apa jawaban beliau (Nabi Ayyub)? Jawaban Nabi Ayyub adalah "Mah.. berapa lama kita diuji dengan kebaikan? "Kata istrinya "70 Tahun", Nabi Ayyub bertanya kembali "Berapa lama kita diuji seperti ini? "Kata istrinya "20 Tahun", kata Nabi Ayyub "Mah.. saya malu kalau harus minta sekarang karena masih banyak senangnya dibandingkan sakitnya, nanti saja kalau waktunya sudah sama-sama 70 Tahun baru saya memohon kepada Allah SWT, untuk diberikan kesembuhan".

Saat kalimat itu muncul dari lisan Nabi Ayyub maka Allah turunkan berita (Ayat), ketika penyakit Nabi Ayyub mulai mengganggu pada ibadahnya bukan pula tidak ingin sehat, melainkan hanya karena mengganggu ibadahnya kepada Allah. Nabi Ayyub meminta kepada Allah karena penyakit ini sudah mengganggu ibadahnya, dengan permintaan beliau yang Masha Allah "Ya Allah penyakit ini sudah mengganggu ibadahku kepadaMu, sedangkan kau yang paling sayang kepada saya" Maka Allah menyembuhkan penyakit nya, hebatnya lagi saat tetangganya tau karena Nabi Ayyub dulunya adalah seorang yang kaya dan dermawan, maka tetangganya pun menengok sambil membawakan berbagai macam jenis rezeki berupa materi seperti kambing, makanan dan lain-lain. Sampai harta Nabi Ayyub bertambah hingga 2x lipat dari sebelum datangnya ujian dari Allah SWT, kemudian setelah sehat Nabi Ayyub dan istrinya diberikan karunia (mengandung) dengan setiap anak yang dilahirkan kembar sampai 12x mengandung, seperti sebelum diwafatkannya 12 anak Nabi Ayyub oleh Allah sebagai ujian.

Dan ini agar menjadi pengingat inspirasi bagi hamba-hamba Allah setelahnya, bahkan yang mengalami hal yang sama dengan Nabi Ayyub, lakukanlah hal yang sama maka Allah akan mengabulkan permohonanmu kelak. Itulah Tauhidnya "Lakukan seperti yang Nabi Ayyub lakukan, bagaimana cara Nabi Ayyub melakukannya" Bukan cuma dunia, kalau kita hanya meminta dunia agak susah datangnya, tapi kita sandingkan dengan iman.

Rumusnya yaitu;

Kalau kita ingin berdoa, dahulukan kepentingan ibadah dibandingkan dunia (Teori umumnya ada di Al-Qosos, QS.28 ayat 77-78)

Kalau kita ingin berdoa kepada Allah (meminta permohonan kepada Allah), buatlah bahasa yang menyentuh, ini seperti yang diminta para nabi misalnya saja Nabi Zakaria meminta dengan permohonan yang demikian do'anya"Ya Allah hamba tidak pernah putus asa berdoa memohon kepadaMu, sampai rambut hamba ber-uban tidak pernah berhenti doa ini kulantunkan ya Allah, saya sangat yakin dengan karuniaMu kepada saya, karena itu saya tidak pernah putus berdoa kepadaMu, sampai rambut saya beruban gini saya masih doa dengan permintaan yang sama" maka Allah turunkan jawaban kepada Nabi Zakaria.

Alhamdulillah, tidak lain hanya selalu ingin mengingat dengan ilmu-ilmu dari para Nabi maupun syari'at- syari'atNya, dan bukan lain hanya ingin selalu mempublikasikan ilmu yang bermanfaat seperti ini, tujuannya untuk saya pribadi mengevaluasi diri, memahami konteks Islam yang baik dan benar mulai dari dasaran agamaNya. Dan intinya selalu ingin belajar lebih dalam lagi mengenai Islam yang baik menurut Allah dan RasulNya. Semoga kita menjadi hambaNya yang selalu baik menurut Allah dan RasulNya, dan selalu diingatkan olehNya jikalau nanti kita salah mengambil keputusan, salah dalam segala hal di dunia ini, Amin Ya Allah Ya Rabbal Alamin.


Post a Comment for "Penjelasan [Tauhid] dan Pengertian dalam Islam"