Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Qarun Orang Kaya Sombong di Zaman Nabi Musa AS

بسم الله الرحمن الرحيم

Kisah Qarun Laknatullah



Tidak lepas kita panjatkan Alhamdulillah dari setiap kesempatan yang Allah SWT berikan kepada kita semua, khususnya kepada saya pribadi yang dapat menyempatkan waktu untuk menulis kisah tentang Qorun di zaman Nabi Musa AS. Sholawat serta salam tidak luput kita junjung pada Nabi kita semua Muhammad SAW, yang telah berjuang keras dalam setiap kehidupannya untuk mensejahterakan agama kita semua yaitu ISLAM.

Bicara tentang kisah Qorun ini sangatlah menarik, bagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al-Qashash ayat 76 dan seterusnya, menyatakan bahwa "Sesungguhnya Qorun adalah dari kaum Nabi Musa AS". Disebutkan di dalam Al-Qur'an pula bahwa Nabi Musa AS telah diperintahkan untuk mendatangi Fir'aun, haman dan Qorun dengan kekuatan yang jelas, namun mereka sombong dengan kekuasaannya dan mengatakan Nabi Musa AS sebagai pembohong.

Qorun sombong karena kekayaan dan telah disebutkan bahwa Qorun berasal dari kaum Nabi Musa AS, namun tidak dijelaskan secara detailnya bahwa "Kapan terjadinya persis Qorun ditenggelamkan bersama hartanya ke dalam bumi". Apakah peristiwa ini terjadi tatkala Nabi Musa AS masih berada di Mesir, sebagian ahli tafsir mengatakan bahwasannya Qorun ini dahulu kala adalah petugas dari Fir'aun yang bertugas untuk mengawasi Bani Israil dan diberi harta yang banyak kemudian dia menjadi pribadi yang sombong. Ataukah kejadian terbenamnya Qorun ini setelah keluarnya Nabi Musa AS dari Mesir.

Tidak dijelaskan oleh Allah SWT mengenai kejadian terbenamnya Qorun ini dalam Al-Qur'an, bukan berarti ada pembelajaran dalam kejadiannya melainkan hanya tidak ada faedahnya saja. Kalaupun ada faedahnya Allah SWT pasti akan menyampaikannya di dalam Al-Qur'an maupun Hadits. Seperti contoh mudahnya saja "Warna anjing Ash-Habul Kahfi banyak khilaf (pendapat yang tidak menuju kepada pro dan kontra) berpendapat tentang hal yang tidak ada faidahnya seperti ini, karena hal tersebut tidak bersangkutan dengan iman kita kepada Allah SWT".

Allah SWT menyebutkan dalam surat Al-Qashash: Saking banyak hartanya sampai dijadikan istilah seperti halnya seseorang yang telah menemukan harta di dalam tanah namanya adalah harta Qorun atau yang disebut oleh kita pada zaman ini adalah harta karun, meskipun ditemukan harta tersebut tidak pada tempat saat terbenamnya Qorun. Dan Allah SWT telah menegaskan pada ayat sebelumnya bahwa "Harta yang diberikan kepada kalian adalah hanya kesenangan dunia semata", tidak ada pengecualian dalam pemberian Allah SWT tentang harta kepada makhluk Nya.

Ada perkataan dari Imam Al-Qurtubi dalam tafsirannya: Bahwa Allah SWT telah menjelaskan bahwa Qorun telah diberikan harta dunia dan dia telah terperdaya dalam harta tersebut, namun harta tersebut tidak dapat menyelamatkan dia dari adzab Allah SWT sebagaimana kerajaannya atau kekayaannya tidak bisa menyelamatkan Fir'aun. Dan telah dipastikan bahwa kaum musyrikin tidak akan lebih banyak harta kalian dari Qorun dan Fir'aun.

Kemudian siapakah Qorun ini sebenarnya? dikatakan oleh imam Al-Qurtubi "Sesungguhnya para Ulama Salaf mengatakan bahwa Qorun adalah sepupunya Nabi Musa AS", namanya adalah Qorun bin Yashar bin Qohits atau Quhas bin Lewi bin Ya'qub AS, adapun Nabi Musa AS yaitu Musa bin Imron bin Qohits. Dikatakan sepupu Nabi Musa AS antara lain karena Qorun dengan Nabi Musa AS tidak lain karena satu kakek Qohits.

Kemudian kata Allah SWT bahwasannya Qorun adalah dari kaum Musa AS dan dia berbuat dzolim atau bisa disebutkan sebagai perbuatan yang telah melampaui batas. Perbuatan apa yang dilakukan oleh Qorun? perbuatannya tidak disebutkan oleh Allah SWT kepada kaumnya, namun para khilaf ada yang mengatakan bahwa perbuatan kesombongan itulah maupun ishbal yang dikatakan oleh Syahr bin Hawsyab yaitu memakai pakaian yang melebihi aturan yang tidak disenangi Allah SWT. Disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW bersabda mengenai hal ishbal (pakaian yang digunakan lebih dari aturan atau nalar manusia normal) ini: bahwa Allah SWT tidak akan melihat kepada mereka yang sengaja menjulurkan sarungnya ataupun celananya karena sombong.

Allah SWT mengatakan tentang harta Qorun bahwa: Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada Qorun harta yang dikumpulkan, yang kunci-kuncinya dapat memberatkan sekelompok lelaki yang kuat-kuat. Tatkala kaumnya berkata kepada Qorun "Janganlah kau sombong, sesungguhnya Allah SWT tidak suka dengan orang-orang yang sombong". Inilah yang membuat Qorun sombong karena harta yang dimiliki sangatlah banyak.

Sampai disebutkan bahwa kuncinya diangkat oleh sekelompok orang tersebut sampai miring (kondisi yang tidak stabil) karena saking beratnya, ada khilaf dikalangan para ahli tafsir mengenai banyaknya orang yang mengangkat kunci tersebut ada yang mengatakan 20 orang, 40 orang, 70 orang dan ada juga yang mengatakan sekumpulan orang yang mengangkat kunci gudang hartanya tersebut sampai miring. Ada yang menyebutkan kunci dari setiap gudang tersebut terbuat dari kulit "entah kulit sapi ataupun kulit unta" dan kunci gudang tersebut serukuran satu jari. Kalau diangkat oleh 70 orang berarti ada 70 gudang hartanya.

Para ahli tafsir mengatakan: kalau Qorun sedang ingin keluar (berpergian) bersama anak buahnya, maka dikumpulkannya lah kunci-kunci gudang tersebut, diperintahkan untuk memikul kunci gudang tersebut bersama 60 hewan yang lebih tinggi daripada himar (keledai) dan lebih kecil daripada kuda. Menunjukkan bahwa harta Qorun sangatlah berlimpah, satu gudangnya pun kita tidak tahu besarnya seperti apa.

Saat diperjalanan Qorun bertemu dengan kaum Nabi Musa AS, dan kaum Nabi Musa AS menasehati Qorun "Hai Qorun janganlah kau sombong, sungguh Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong dalam hartanya", lalu disampaikan lagi oleh kaum Nabi Musa AS "Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadamu (mencari kebahagiaan di akhirat), dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi, Baik hatilah kalian kepada yang lain sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini karena Allah SWT tidak suka dengan orang-orang yang berbuat kerusakan."

Dalam tafsiran mengenai nasehat diatas yang diberikan oleh kaum Nabi Musa AS kepada Qorun ini memunculkan 2 pendapat dalam konteks mencari kebahagiaan di akhirat;

  1. Pendapat yang pertama yaitu Ibnu Abbas dari kalangan orang-orang yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an, mengatakan bahwa umurmu (Qorun) itu terbatas bagianmu di dunia itu kehidupanmu, maka jangan kamu sia-siakan seluruh harta maupun nikmat yang telah diberikan semata-mata hanya untuk dunia. Jadikanlah segala yang Allah SWT berikan kepadamu harta kekayaan serta nikmat dalam kehidupan untuk mencar sarana kebahagiaan nantinya di akhirat. Ingat umurmu itu pendek (tidak kekal hidupmu selama kau masih berada di dunia. Dan dalam kitab Al-Qurtubi menyatakan bahwa tafsiran yang demikian sangatlah keras (tegas) agar yang disampaikannya dapat ditela'ah (difikirkan kembali mengenai kehidupannya yang menyimpang) dengan baik.
  2. Pendapat yang kedua disampaikan oleh Hasan Al-Bashri Al-Qatadah, menyampaikan dengan penyampaian yang ringan bahwa, carilah kelebihan yang diberikan dalam duniamu itu untuk mencari akhiratNya tapi tidak mengapa kamu bersenang-senang dalam duniamu pada perkara yang dihalalkan oleh Allah SWT. 
Nasehat yang selanjutnya tentang perbuatan baiknya Allah SWT yang tidak diikuti dengan perbuatan baiknya Qorun terhadap hamba-hamba Allah SWT yang lain, harusnya Qorun dapat bersyukur karena telah diberikan harta yang lebih sehingga dapat dengan mudah untuk mensejahterakan hambaNya juga. Ujian yang Allah SWT berikan kebanyakan gagalnya saat hambanya sedang berada diposisi puncak kenikmatan dunia, dan sebaliknya hamba Allah yang diuji dengan kemiskinan kebanyakan dari mereka lulus dalam hal seleksi akhiratNya.

Kemudian nasehat yang terakhir mengenai ayat diatas yang disampaikan oleh kaum Nabi Musa AS kepada Qorun yaitu tentang kerusakan di dunia karena Allah SWT tidak suka dengan orang-orang yang melakukan kerusakan di dunia, maksud dalam kerusakan ini luas dan yang paling ditekankan yaitu kerusakan maksiat. Kerusakan maksiat secara pengertian yang dapat merugikan manusianya, dan secara hakiki yaitu merugikan dirinya terhadap Allah SWT yang telah menetapkan bahwa hal tersebut adalah kemaksiatan yang dapat merugikan dirinya dari segala hal termasuk bumiNya.

Lalu apa jawaban Qorun? Jawabannya pendek namun sudah dipastikan dalam kesombongan yang hakiki, bahwa harta yang ia dapatkan karena saya punya ilmu. Ada yang mengatakan bahwa hartanya itu karena sudah ditetapkan oleh Allah SWT kepada dirinya, tidak usahlah kalian panjang lebar ceramah kepadaku. Maka Allah SWT membantah "Apakah kamu (Qorun) tidak tahu bahwasannya Allah SWT telah membinasakan orang-orang sebelum kamu yang lebih kuat dan lebih banyak kekayaannya daripada kamu (Qorun), dan tidak perlu ditanya kembali tentang dosa-dosa mereka yang telah dibinasakan itu".

Maksudnya apa? Ada beberapa pendapat dikalangan para ulama mengatakan bahwa mereka para pendosa tidak akan ditanya oleh Allah, Kenapa? Ya tidak perlu ditanya ataupun dihisab oleh Allah SWT, karena orang yang dihisab itu dapat mengajukan udzur (mengatakan hal yang sesungguhnya didepan Allah SWT saat ditanya).

Maka lalu dia keluar untuk bertemu dengan kaumnya dipuncak-punca perhiasannya sampai membuat sebagian orang terpesona melihat kekayaannya, maka berkatalah orang-orang yang mencari kehidupan dunia "Seandainya Allah SWT memberikan kepada kita harta sebagaimana yang diberikan kepada Qorun, sesungguhnya ia telah mendapatkan bagian yang sangat besar". Kemudian ada sekelompok orang yang beriman (yang telah diberi ilmu oleh Allah SWT) berkata "Celakalah kalian, sesungguhnya ganjaran Allah SWT diakhirat lebih baik daripada ini semua.

Saat-saat Qorun berada dipuncak-puncak kesombongannya maka Allah SWT benamkan dia kedalam bumi, dan harta kekayaannya. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa ditenggelamkannya Qorun karena do'a dari Nabi Musa AS, dan tidak ada yang bisa membantu Qorun saat ia ditenggelamkan. Maka setelah ditenggelamkannya Qorun, orang-orang yang tadi berandai-andai memiliki harta seperti Qorun mereka tersadarkan, mereka mengatakan "Allah SWT telah memberi rizki kepada mereka yang dikehendaki dan Allah SWT menyempitkan rizki kepada mereka yang telah dikehendaki".

Dapat disimpulkan dari konteks terakhir saat Qorun ditenggelamkan dan orang-orang yang telah berandai-andai ini mengatakan "Harta tidak menunjukkan kasih sayang Allah SWT, bisa jadi harta yang diberikan kepada Allah SWT kepada mereka yang dicintai, bisa jadi harta yang diberikan Allah SWT kepada yang tidak dicintai seperti Qorun". Dan mereka orang-orang itu mengutarakan rasa syukurnya kepada Allah SWT karena tidak diberikan kekayaan yang berpotensi kepada sombong yang tidak disukai Allah SWT. Mereka sadar diberikan harta yang cukup itu adalah karunia dari Allah SWT, seandainya kami (orang yang berandai-andai tersebut) seperti Qorun maka Allah SWT akan menenggelamkan kami pula bersamaan Qorun.

Inti dari cerita Qorun ini yaitu hanya 1, ingat bahwa surga itu tidak mengizinkan orang-orang yang sombong akan duniaNya, dan ingatkan diri agar selalu ingat kepada Allah SWT dari apa yang telah diberikanNya kepada kita, syukuri dan berikan pula kepada yang berada dibawah kita (posisi yang lebih membutuhkan), karena didalam harta yang kita dapatkan 2,5% wajib di zakatkan untuk mereka yang butuh bantuan dari hambaNya. Allah SWT tidak memberikan secara cuma-cuma melainkan Allah SWT selalu ingin hambanya itu pintar dalam setiap ujiannya, dalam setiap pemberiannya dan bagaimana mengutarakan wujud syukurnya terhadap Allah SWT yang telah memberikan apa yang dibutuhkannya.
















1 comment for "Kisah Qarun Orang Kaya Sombong di Zaman Nabi Musa AS"